Menapaki Jejak dan Berdo"a di Makam Sunan Ampel Surabaya

Menapaki Jejak dan Berdo

Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat. Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur. Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu.

Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya. Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel.

Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid Ampel adalah sebuah kawasan di bagian utara Kota Surabaya dimana mayoritas penduduknya merupakan etnis Arab. Di kawasan ini kental dengan suasana Timur Tengah dan pasarnya yang menjual barang dan makanan khas Timur Tengah. Pusat kawasan Ampel adalah Masjid Ampel yang terletak di Jalan Ampel Suci 45 atau Jl. Ampel Masjid 53 dan didirikan pada abad ke-15. kawasan Ampel merupakan salah satu daerah kunjungan wisata religi di Surabaya. Apabila Anda ingin berbelanja barang atau makanan khas Timur Tengah maka datanglah ke Masjid Ampel.

Gambar terkait  

Masjid Ampel adalah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel dan di dekatnya terdapat kompleks makam Sunan Ampel. Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di Surabaya. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan dengan arsitektur Tiongkok dan arab. Di samping kiri halaman Masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininya untuk penguat janji atau sumpah. Anda akan melihat beberapa deretan gentong besar saat berada di dalam kompleks makam.

Didalam Komplek Makam
Masih di dalam kompleks Makam Sunan Ampel Surabaya terdapat pula Petilasan Sunan Kalijaga yang berpagar besi terpisah dari kompleks makam utama. Sunan Kalijaga adalah salah satu sunan wali songo yang dikenal gemar bepergian dalam menjalankan dakwahnya, sehingga petilasannya bisa dijumpai sampai di Cirebon.

 

Selain itu ada pula Petilasan Sunan Kalijaga di Gresik, dan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Yang disebut terkhir merupakan makam dimana jasad sang sunan disemayamkan. Adalah Sunan Bonang, putera Sunan Ampel, yang kemudian merubah jalan hidup Raden Said sehingga akhirnya menjadi ulama terkenal dan disegani berjuluk Sunan Kalijaga.
  

Makam utama Sunan Ampel ini terletak di sebuah kompleks yang sangat luas dan terdapat pula makam-makam pengikut beliau. Dalam area  makam Sunan Ampel ada pendopo sebagai tempat untuk berteduh juga duduk-duduk bersantai menikmati suasana, sedangkan halamaNnya sangat luas tersusun paving. Di area ini terdapat pohon-pohon besar tumbuh rindang menaungi kawasan kompleks makam.

Makam Sunan Ampel yang letaknya bersebelahan dengan makam Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila), isteri pertamanya yang merupakan puteri Adipati Tuban Arya Teja. Dari Condrowati, Sunan Ampel memiliki anak Siti Syariah (istri Sunan Kudus), Siti Mutmainah (istri Sunan Gunung Jati), Siti Khafshah (istri Sunan Kalijaga), Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qosim (Sunan Drajad Sedayu) Sedangkan dari isteri keduanya yang bernama Dewi Karimah, Sunan Ampel menurunkan Dewi Murthosiah (menikah dengan Sunan Giri) dan Dewi Murthosimah (menikah dengan Raden Fatah).
 

 

 

 

Sumber: Dari berbagai Narasumber