Ziarah, Ngalap Berkah Makam Syekh Tubagus Zakaria Tangerang

Ziarah, Ngalap Berkah Makam Syekh Tubagus Zakaria Tangerang

Makam ini berada di Jalan Sempati RT 04/02 Kelurahan Batu Jaya, Batu ceper kota Tangerang seorang tokoh agama yang di klaim sebagai salah satu pendiri kota Tangerang ini merupakan salah satu tempat favorit peziarah, mulai dari pengusaha, tim sukses orang-orang politik, sampai orang miskin yang mau mengubah nasib, memang banyak banget yang datang ke sini,” ujar Ahmad Syaihu. Saat ini masih banyak orang yang percaya jika mengunjungi makam bisa untuk mendapatkan berkah. Mulai dari minta rezeki hingga mencari kesaktian. Salah satunya Makam Syekh Tubagus Zakaria atau yang disebut dengan nama lain Tumenggung Raden Arya Santika, ulama asal Arab yang Hijrah ke Indonesia guna untuk menyiarkan syariah Islam. Makam ini juga banyak dikunjungi para peziarah. Juru kunci makam tersebut, Ahmad Syaihu mengaku, makam tersebut kini menjadi makam keramat karena banyak warga yang sengaja datang sejak malam sampai pagi hari untuk bertapa. "Kalau mau lihat ramainya, datang malam Jumat. Pasti banyak yang bertapa di dekat makam. Dari ba'da Isya sampai dengan menjelang Subuh. Mereka kebanyakan datang ke sini, karena ada maksud tertentu. Seperti minta rejeki, agar sakti. Namun saya selaku kuncen makam ini tetap mengingatkan kepada penziarah untuk tetap berniat ziarah saja," kata Ahmad. Dia mengaku, sering melihat warga membawa makan-makanan dan alat pusaka ke makam. Tetapi, dirinya sendiri tidak bisa melarang para pengunjung yang datang untuk membawa itu semua. "Saya cuma bilang agar tidak ada niat apa pun. Itu saja," katanya. Selain warga, dirinya juga kerap melihat beberapa kyai datang. Namun, mereka biasanya datang ke makam, karena sebelumnya sudah bertemu Syekh lewat mimpi. Usia makam tersebut, kata dia, sudah berumur ratusan tahun. Awal warga mulai berdatangan, karena mendengar informasi makam tersebut mengeluarkan wewangian kasturi dan kenanga. Sebelumnya, makam itu sempat dipindah dari pinggir jalan raya Batuceper ke lokasi saat ini. "Dalam cerita pemindahan makam tersebut pohon asem yang berada di samping makam tersebut tidak bisa dirubuhkan oleh mobil traktor. Bahkan mobil traktor tersebut yang mengalami patah di bagian besi besinya, saya sendiri menyaksikannya," jelas Ahmad. Setelah memanggil para kiai dari Cirebon, barulah Pohon asem tersebut bisa dirobohkan. Kemudian setelah itu baru makam Syech Zakaria Ariasantika digali guna pemindahan makam. "Dalam penggalian makam pun terjadi keanehan, makam tersebut ketika hendak digali mengeluarkan percikan api, dan berbau wangi bunga kenang. Namun, setelah dibimbing oleh ketiga kyai dari Cirebon itulah baru bisa di gali, dan terlihat mayat tersebut masih rapih terbungkus kain kafan lengkap dengan tulang belulang," katanya.