Survey Rumah Kebangsaan : Dakwah Radikal Marak di Masjid Negara

Survey Rumah Kebangsaan : Dakwah Radikal Marak di Masjid Negara

Polemik tentang eksistensi masjid yang menyebarkan dakwah radikal, kembali bergulir. Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno dan Kepala Badan Intelijen Negara, Budi Gunawan mengungkapkan adanya 40 masjid bertendensi radikal di DKI Jakarta. Kini giliran Rumah Kebangsaan dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) merilis hasil penelitiannya yang mengungkapkan ada 41 masjid BUMN di Jakarta yang terindikasi menyebar dakwah radikal.

“Riset ini dilakukan lantaran kami melihat kekhawatiran masyarakat umum, terhadap maraknya intoleransi dan ekstrimisme di masyarakat. Kita juga melihat bibit-bibit radikalisme disebarkan melalui berbagai media. Yang kita sayangkan, juga disebarkan melalui rumah ibadah. Kami mengumpulkan bukti-bukti awal atas indikasi penyebaran radikalisme ini. Kemudian kita survey serratus masjid di  lingkungan Kementerian, BUMN dan Lembaga Negara,” papar Direktur Rumah Kebangsaan, Erika Widyaningsih dalam konferensi persnya, Ahad, 8 Juli 2018.

Erika mengatakan, survey yang ia lakukan tidak main-main, karena menyertakan bukti rekaman audio, video dan foto serta bulletin yang disebar di masjid terkait.

“Hasil survey menunjukkan angka yang cukup mengejutkan, dari 100 masjid yang disurvey, sebanyak 41 masjid terindikasi radikal. 41 masjid tersebut, terdiri dari 21 masjid BUMN, 8 masjid Lembaga Negara dan 12 masjid Kementerian,”ujar coordinator Riset Rumah Kebangsaan, Agus Muhammad.  

Nama

Jumlah Masjid

Terindikasi Radikal

Prosentase

BUMN

37

21

56%

LEMBAGA

28

8

30%

KEMENTERIAN

35

12

34%

 

 

Lebih lanjut, Agus merinci, hasil risetnya menunjukkan bahwa dari 37 masjid BUMN, 21 (56%) diantaranya terindikasi radikal. Sementara, dari 28 masjid Lembaga, 8 masjid (30%) terindikasi radikal. Sedangkan masjid-masjid Kementerian, dari 35 masjid, 12 masjid (34%) terindikasi radikal.

Secara lebih rinci, indikasi radikal dari 41 masjid tersebut dibagi dalam 3 (tiga) kategori, yakni Rendah, Sedang dan Tinggi. Rendah artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib tidak setuju tindakan intoleran, tetapi memaklumi jika terjadi intoleransi. Kategori Sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung tinggi, misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib setuju tapi tidak sampai memprovokasi jamaah untuk bertindak intoleran. Sedangkan kategori Tinggi adalah level tertinggi di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran.

Dari 41 masjid yang terindikasi radikal, sebanyak 17 (41%) masjid berada dalam kategori Tinggi, kategori Sedang 17 (41%) masjid. Hanya 7 masjid (18%) yang masuk kategori Rendah. Selengkapnya bisa dilihat dalam table berikut ini:

 

Kategori Masjid

Abu-abu

Kuning

Merah

Total

BUMN

1

13

7

21

LEMBAGA

1

1

6

8

KEMENTERIAN

5

3

4

12

Total

7

17

17

41

 

 

Hasil survey ini baru sebatas indikasi, belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang sebenarnya. Bisa jadi masjid-masjid yang terindikasi radikal tersebut sesungguhnya moderat karena yang dianalisis hanyalah khutbah jumat. Tapi temuan ini juga bisa dibaca sebaliknya, fakta yang sesungguhnya lebih radikal dari temuan lapangan. Itulah sebabnya survey ini perlu didalami untuk mendapatkan fakta yang lebih empiris. (TM).