Jokowi Bisa Kalah dengan Keputusan “What if" yang Tidak Memuaskan Ini

Jokowi Bisa Kalah dengan Keputusan “What if

LADUNI.ID, Jakarta - Pilpres 2019 akan menjadi sebuah kompetisi politik yang sangat menarik. Bisa jadi, ini merupakan referendum terhadap Pancasila dan UUD 1945.

Saat ini, di atas kertas, Jokowi masih teratas. Beliau sudah memilih Ketua Umum MUI KH. Ma'ruf Amin yang juga adalah Rais Aam PBNU, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Tentu Jokowi punya pertimbangan-pertimbangan pribadi maupun hasil diskusi dengan koalisi partai pendukung tentang pilihan calon wapres tersebut. Yang pasti, Jokowi secara 'preemptive' ingin mencegah issue bahwa Jokowi adalah anti ulama ataupun issue bahwa Jokowi adalah anti Islam.

Langkah Jokowi ini sudah tepat apabila analisa resiko yang dilakukan itu linear. Akan tetapi, banyak sekali variable yang tidak mungkin bisa diprediksi hanya dengan mempergunakan 'anecdotal evidence' saja. Hal ini sudah ditunjukkan di Pilpres Amerika Serikat dimana Hilarry Clinton yang oleh semua polls dinyatakan unggul, ternyata berhasil dikalahkan oleh Donald Trump, seorang yang sama sekali tidak punya pengalaman memimpin.

Dalam kondisi ini, pertanyaan-pertanyaan 'what if' itu perlu dikaji lebih dalam.

What If: masyarakat yang selama ini diam, menginginkan perubahan dari statusquo yang selama ini ada, dan status quo dimaksud adalah NU?

What If: masyarakat mayoritas, yang ada di pulau Jawa merasa bahwa Jokowi terlalu 'non-jawa' centris karena memberikan perhatian lebih kepada daerah-daerah di luar Jawa?

What If: ada kejenuhan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang selama ini dianggap hanya sebagai simbol saja tapi tidak mampu untuk direfleksikan dalam perwujudan pemerintahan yang bersih dan berwibawa?

What if: masyarakat menengah ke bawah berhasil diyakinkan bahwa penguatan USD akan berdampak langsung terhadap naiknya harga-harga barang konsumsi rumah tangga, dan itu adalah salahnya Jokowi?

What if: KH Ma'ruf Amin tidak mendapat 'airtime' yang seimbang dengan Jokowi sehingga masyarakat mampu diyakinkan bahwa beliau hanya dimanfaatkan oleh Jokowi saja?

Terlalu banyak "What If" yang harus disimulasikan dan dicari cara yang tepat untuk meresponsnya. Ingat, Hilarry Clinton yang di semua polling menang, ternyata kalah oleh seorang Donald Trump. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi di Indonesia.

Oleh: Alto Luger

Penulis adalah pengamat politik Timur Tengah tinggal di Geneva, Swiss