Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #7: Ulama Bergelar Al-Mantiqi

Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #7: Ulama Bergelar Al-Mantiqi
LADUNI. iD. ULAMA- Syekh Abdul Aziz Al-Mantiqibernama asli Abdul Aziz bin Muhammad Saleh merupakan sosok berhimmah tinggi dalam menuntut ilmu. Walaupun beliau telah alim dan menguasai kitab, namun dengan dorongan himmah seakan ilmu masih sangat kurang.
 
Disebutkan bahwa setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1951 Abon Aziz Samalanga Aceh melanjutkan pendidikan ke dayah yang tersohor di bawah pimpinan seorang ulama besar Al-Mukarram Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy, tepatnya di dayah pesisir pantai Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.
 
Ketinggian ilmunya dalam segala disiplin ilmu agama telah dikenal seantero nusantara bahkan luar negeri. Beliau juga seorang pengamal dan pelopor tarekat Naqsyabandiah di Aceh dan sering dikenal dengan panggilan Abuya Mudawali. Abon Aziz Samalanga Aceh belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.
 
Kebiasaan mereka yang melanjutkan pendidikan ke Dayah Labuhan Haji adalah mereka yang telah belajar kitab tinggi seperti Al-Mahally bahkan telah menjadi orang alim dan pimpinan dayah di daerah asalnya termasuk Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz Sendiri.
 
Namun sampai di dayah tersebut mereka belajar kembali dengan kitab yang terendah hingga kelas tinggi dan Abuya sendiri yang mengajarkannya. Pernah dalam sebuah pidato Almarhum Abon Aziz Samalanga Aceh Tanjongan, beliau merupakan murid Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz, selama di Labuhan Haji menjadi asisten Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz untuk membawakan kitab-kitab Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz selama belajar dengan Abuya.
 
Selama di Darussalam Labuhan Haji, beliau belajar dengan sangat  tekun, bahwa pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.
Abon Aziz Samalanga Aceh sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan sakitpun beliau tetap antusias mengajar. Salah seorang cucu Abuya Muhibbuddin Waly, Teungku Naqsyabandi, beliau mendengar sendiri dari Abuya Doktor Muhibbudin Waly bahwa ketika Aboen Aziz al Mantiqi sudah enam tahun lebih belajar di Zawiyah Darussalam.
 
Abuya Muda Waly menyuruh Aboen Aziz untuk pulang kampung dan mengamalkan ilmunya. Namun, Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz al Mantiqi belum mau pulang dan beliau berkata kepada Abuya: "Abuya, saya belum ada keinginan untuk pulang kampung, karena saya ingin menghabiskan seluruh ilmu Abuya".
 
Lalu dijawab oleh Abuya Muda Waly: "Ilmu yang ada pada kamu saja sekarang masih semata kaki saya, kamu tidak akan bisa menghabiskan ilmu saya. Oleh karena itu sekarang kamu pulang dan amalkan ilmu yang ada."Akhirnya Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz al Mantiqi mematuhi perintah Sang Guru untuk pulang dan mengamalkan ilmu.
Foto: Syekh Abdul Aziz Al-Mantiqi Samalanga Aceh dengan ulama lainnya@dinulislamnews
 
Akhirnya pada tahun 1958 Abon Aziz Samalanga Aceh kembali lagi ke Dayah  MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon Aziz Samalanga Aceh diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut.
 
Semenjak dayah  MUDI  berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma‘ani, dan lain-lain.
 
Gelar yang disandang oleh Abon Aziz Samalanga Aceh mengisyaratkan bahwa spesialis keahlian Abon Aziz Samalanga Aceh yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon Aziz Samalanga Aceh digelar dengan al-Manthiqi.
 
Namun jangan sampai kita mengambil kesimpulan keliru seolah-olah Abon Aziz Samalanga Aceh Aziz yang mampu mantiq saja, itu pemahaman keliru, namun Abon Aziz Samalanga Aceh juga sangat pandai dalam bidang ilmu lainnya
 
Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Aceh.