Menatap Kota Meulaboh dalam Perspektif Sejarah

Menatap Kota Meulaboh dalam Perspektif Sejarah

LADUNI. ID, Aceh- Salah satu wilayah di pantai barat Selatan yang menyimpan banyak sejarah dan tidak sedikit ulama dan tokoh lainnya. Meulaboh orang menyebutnya yang merupakan ibu kota kabupaten Aceh Barat.

Beberapa kutipan sejarah menurutkan bahwa sebelum dikenal dengan sebutan Meulaboh, dahulunya kawasan tanjung ini bernama Pasi Karam. Penyebutan Meulaboh diduga kuat terkait dengan letaknya yang berdekatan dengan laut sehingga menjadikannya sebagai kawasan pelabuhan yang strategis. 

Berbicara asal usul daerah merupakan banyak perawinya, apakah itu "haba sahih", "Haba Hasan", atau "Haba Maudhu'". Sejarah itu dapat diluruskan apabila ada bukti yang lebih valid dan mendekati kebenaran, terlebih ini bukanlah Al-Quran dan Hadist yang tidak dapat diubah "semau gue".

Ada juga riwayat yang berpendapat ylbahwa penyebutan "Meulaboh" terkait dengan sejarah eksodusnya sejumlah warga Minangkabau dari Sumatera Barat yang ketika itu berada dibawah cengkeraman penjajah belanda ke sejumlah titik di sepanjang pesisir Barat dan Selatan Aceh. 

Berdasarkan versi ini, dikisahkan bahwa diantara gelombang besar eksodus tersebut terdapat kelompok kecil yang berlabuh di Pesisir Kota Meulaboh sekarang, lalu peristiwa pendaratan ini di kait-kaitkan dengan asal muasal penamaan “Meulaboh”, mengingat kata “Meulaboh” sendiri dalam bahasa Aceh berarti “berlabuh”. 

Meulaboh tercatat sebagai daerah ramai pertama Aceh Barat di abad ke-16 yang pada saat itu diperintah raja bergelar Teuku Keujruen Meulaboh. Meulaboh sebelum bencana gempa tsunami banyak ditemukan tempat sejarah seperti makam kolonial Belanda tepatnya didepan Makorem Meulaboh, juga ditemukan peninggalan Jepang seperti Bunker pertahanan.

Sementara itu menurut H. M Zainuddin dalam buku tarikh aceh dan nusatara(1961) asal mula meulaboh adalah negeri pasir karam yang dibangun pada masa sultan saidil mukammil(1588-1604). Sewaktu masa pemerintah sultan iskandar muda (1607-1636) kerajaan tersebut ditambah pembangunannya.

Dinegeri Meulaboh dibuka perkebunan lada namun tidak begitu berkembang karena kalah saing dengan dengan negeri singkil yang lebih maju karena banyak kapal dagang yang singgah di singkil untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus. Pada masa sultan Djamalul Alam pembangunan semakin ditingkatkan.

Pekerja yang didatangkan untuk mengolah kebun-kebun lada tersebut dari Pidie dan Aceh besar kemudia disusul dengan datangnya orang minangkabau yang lari dari negerinya akibat pecahnya perang padri (1805-1836). Sesampai di teluk pasir karam pendatang dari minangkabau tersebut sepakat untuk berlabuh.

Hingga dalam keseharian saat dialog terungkaplah kata“ Disikolah kito berlaboh” pinta mereka. Semenjak itulah negeri pasir karan dikenal dengan nama meulaboh dari asal kata berlaboh. Pendatang Minangkabau tersebut hidup berbaur dengan masyarakat setempat dan kemudian ada yang menjadi pemimpin. Diantaranya adalah Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datuk Agam dari luhak agam


Pada zaman kolonial Belanda, wilayah pesisir barat-selatan Aceh berbentuk sejenis afdeeling dengan sebutan “West Kust Van Atjeh”, yang wilayahnya terbentang dari wilayah Kabupaten Aceh Jaya sekarang hingga ke Aceh Singkil yang berbatasan dengan Sumatera Utara dengan Meulaboh sebagai ibu kotanya. 

Selanjutnya pada zaman jepang hanya terjadi perubahan pada penamaanya saja, sementara secara administratif, wilayahnya masih sama..Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Aceh Barat dimekarkan menjadi Aceh Barat yang beribukotakan Meulaboh dan Aceh Selatan dengan ibukota Tapak Tuan menurut Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1956 pada 4 November 1956.Sejak tahun 2002, Meulaboh sendiri setidaknya menggambarkan seluruh daerah Aceh Barat sekarang, yang dulunya disebut kewedanaan Meulaboh. 

Pusat pemerintahan kabupaten terletak di Meulaboh.Meulaboh lebih tepat disebut sebagai kawasan yang terdiri dari 7 kelurahan dan 13 desa di Kecamatan Johan Pahlawan. Meulaboh memiliki akses ke pantai Aceh Barat, tetapi tidak semua wilayah pantai merupakan daerah Meulaboh karena akses pantai Meulaboh hanya dua kelurahan.

Kini kota "Teuku Umar" terus berkembang dan berbenah diberbagai bidang bahkan banyak terobosan yang dilakukan oleh pemerintah setempat menuju Meulaboh "Beriman" ( Bersih, Indah,  maju dan Natural). 

Dikutip dari berbagai sumber 

Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penggiat Literasi Asal Dayah MUDI Samalanga