Bappelitbang: Likuifaksi Bisa Terjadi di 10 Kecamatan di Bandung

Bappelitbang: Likuifaksi Bisa Terjadi di 10 Kecamatan di Bandung

LADUNI.ID, Jakarta - Kasubid 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso mengatakan, 10 kecamatan di Kota Bandung berpotensi besar terjadi likuifaksi jika terjadi gempa.

Hal itu Heru katakan terkait fenomena bencana gempa yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Termasuk kota Bandung rupanya tidak hanya dihantui oleh ancaman musibah yang disebabkan pergerakan patahan Lembang tersebut.

Menurutnya pencairan tanah atau likuifaksi juga turut menjadi ancaman saat terjadi gempa besar.

"Itu terjadi karena tanah tidak bisa membendung kekuatan tadi (gempa bumi). Likuifaksi seperti di Petobo, Palu bisa terjadi. Sebagian besar 10 kecamatan itu berada di Bandung selatan dan timur," ujar Heru kepada wartawan di Bandung, Kamis (10/10/2018).

Lanjut Heru, sepuluh kecamatan tersebut adalah Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Kiaracondong dan Antapani.

Lebih lanjut Heru menjelaskan, hal tersebut merupakan hasil penelitian antara Pemkot Bandung, ITB dan United Nation yang dilakukan pada tahun 1990-2000. Sehingga perlu dilakukan penelitian ulang untuk memperbaharui penelitian tersebut.

"Kita perlu update lagi untuk mengetahui apakah tetap 10 (kecamatan) atau ada penambahan dan pengurangan," ujarnya.

Heru juga mengatakan penelitian tersebut tidak bermaksud untuk menakuti warga. Namun penelitian tersebut adalah bagian dari antisipasi karena musibah tidak bisa diramalkan kapan akan terjadi.

Sehingga, kata Heru, dengan penelitian tersebut warga bisa semakin waspada dengan melakukan serangkaian pencegahan dan penanggulangan jika musibah itu terjadi.

Lebih jauh Heru menjelaskan, masifnya pengambilan air tanah menyebabkan cadangan air semakin menipis. 

"Hal itu juga berdampak pada penurunan tanah seperti di kawasan pabrik garmen seperti di kawasan Kopo dan perbatasan Kota Cimahi," katanya.

"Fenomena itu bisa terjadi karena perkembangan Bandung yang pesat. Banyak pembangunan vertical, kawasan padat penduduk. Artinya perlu penanganan bencana agar bisa diminimalisir dampaknya," sambungnya.

Sebelumnya, hal senada juga diungkapkan peneliti dari LIPI Adrin Tohari tentang Cekungan Bandung didominasi tanah lengkung bukan tanah pasir yang mudah terjadi likuifaksi. 

"Likuifaksi itu berada di tanah pasir. Kalau tanah lengkung potensinya tidak ada," kata Tohari.

Alih-alih mengalami likuifaksi, kata Tohari, wilayah Cekungan Bandung justru berpotensi mengalami amplifikasi. Artinya getaran yang terjadi dampak gempa akan lebih besar dirasakan di permukaan karena didominasi lapisan tanah lengkung.

"Jadi kalau tanah lengkung kena guncangan dia akan memperkuat (getaran). Jadi kalau likuifaksi itu bangunan tidak akan rusak strukturnya tapi dia turun ambles. Tapi kalau karena guncangan (amplifikasi) struktur atau dinding bangunan akan kolaps jadi runtuh," jelasnya.

Sementara, Dony Kushardono peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengingatkan fenomena bencana di wilayah Indonesia.

"Mungkin inilah yang harus disadari agar selalu tanggap bencana karena wilayah kita berada di ring of fire," kata Dony.

Menurut Dony, riwayat gempa di Indonesia dan sekitarnya yang memiliki kekuatan mulai 5M hingga lebih dari 8M.

"Sejak kemerdekaan hingga hari ini 1 Oktober 2018 (73 tahun), nampak umumnya gempa dangkal (warna orange) banyak terjadi di Samudra Hindia yang dapat menimbulkan Tsunami, di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi bagian utara, dan Papua bagian utara, bahkan di Jakarta dan sekitarnya," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan kejadian gempa pusatnya dikedalaman laut Jawa dan laut Banda.

"Pernah terjadi gempa tetapi pusatnya di kedalaman 70 hingga 300 km, sedang di laut Jawa hingga laut Banda juga ada gempa yang pusatnya sangat dalam lebih dari 500 km," tuturnya.

(srf)