Kalimat "Laa ilaaha illAllah" tidak Hanya Sekedar Simbol tetapi Harus Melebur dalam Jiwa

Kalimat

LADUNI.ID - Suatu ketika, seorang Kyai yang sedang mengajar para santrinya, menjelaskan makna dari kalimat "La ilaaha illalloh" kepada para santrinya. Tak hanya itu, beliau juga berusaha menanamkan kalimat "La ilaaha illalloh" hingga ke dalam jiwa santri-santrinya.

Kemudian, sebagai bentuk takzim kepada Kyainya itu, ada salah seorang santri yang memang mampu dan berkecukupan harta menghadiahkan seekor burung kakak tua untuk Sang Kyainya. Sang Kyai pun menerima hadiah tersebut dengan senang hati. Burung itu pun dirawatnya dengan baik. 

Semakin hari Sang Kyai pun makin suka dengan burung itu dan sering membawa burung itu pada saat mengajar santri-santrinya. Sehingga burung kakak tua itu pun belajar mengucapkan kalimat tauhid "La ilaha illalloh". Sampai akhirnya, burung kakak tua itu pun lancar dan pandai sekali mengucapkan (laa ilaaha illalloh) siang dan malam.

Suatu ketika, para santri mendapati Sang Kyai sedang menangis. Ketika ditanya apa yang membuat Sang Kyai menangis, dengan terbata-bata beliau mengatakan, kucing telah menerkam burung kakak tua dan membunuhnya.

Para santri pun bertanya dengan heran, "Karena inikah engkau menangis, Wahai Kyai? Kalau engkau menginginkan lagi, kami mampu datangkan burung baru bahkan yang jauh lebih baik."

Sang Kyai berkata, 
"Bukan karena itu aku menangis. Tetapi, yang membuat aku menangis adalah ketika burung itu diserang kucing, burung itu hanya menjerit-jerit saja sampai mati. Padahal siang malam burung itu sering sekali mengucapkan kalimat 'laa ilaaha illalloh'. Tetapi, ketika diterkam kucing, ia lupa kalimat tersebut. Tidak mengucapkan apapun kecuali hanya menjerit dan merintih.....!!!"

Sang Kyai melanjutkan, 
"Sepanjang hayatnya, burung itu hanya mengucapkan 'laa ilaaha illalloh' dengan lisannya saja. Sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya."

Sang Kyai kemudian berkata lagi, 
"Aku khawatir kalau nanti kita seperti kakak tua itu. Saat hidup, kita mengulang-ulang kalimat 'laa ilaaha illalloh' dengan lisan kita, tapi ketika maut datang, kita pun lupa. Jangankan mampu mengucapkannya, mengingatnya saja tidak mampu, ini karena hati kita belum menghayatinya."

Kemudian para muridnya pun menangis, mendengar penjelasan Sang Kyai.

Lalu, bagaimana dengan diri kita, sudahkah kita menanamkan kalimat "laa ilaaha illalloh" ini ke dalam hati sanubari kita? Lalu mengekspresikannya dalam amaliyah kehidupan kita sehari-hari? Atau hanya sekedar di lisan saja?

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita sehingga kalimat "laa ilaaha illAllah" bukan hanya dimulut atau hanya sekedar simbol saja tetapi juga melebur dalam jiwa kita semua. 
Aamiin.....

Penulis
Ketua Umum PC. GP Ansor Kab. Sampang

Gus Khoiron Zaini