Disabilitas Dinilai Masih Alami Diskriminatif

Disabilitas Dinilai Masih Alami Diskriminatif

LADUNI.ID | ACEH –Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Penyandang Disabiltas Indonesia (PPDI), Gufroni Sakaril, mengaku jika penyandang disabilitas masih kerap mendapat pelayanan yang diskriminatif terutama di bidang pendidikan, tenaga kerja, dan usaha.

“Banyak teman-teman di desa-desa tidak bisa akses ke pendidikan dasar karena tempatnya jauh dan ruangannya tidak terakses,” kata Gufroni saat ditemui di lokasi Musda, Kamis (8/11/2018).

Selain itu tidak tersedianya guru-guru yang bisa mengajari para penyandang disabiltas seperti tuna runggu dan tuna daksa juga membuat mereka tidak bisa mengakses layanan pendidikan.

“Kemudian di bidang tenaga kerja, hanya sedikit sekali teman-teman disabilitas yang mendapat pekerjaan di sektor formal seperti  menjadi pegawai atau menjadi karyawan,” tambahnya.

Hal ini disebabkan karena memang sangat berhubungan dengan pendidikan. Jika pendidikannya rendah maka akses untuk dunia kerjanya juga akan sangat terbatas. Kemudian dalam bidang usaha, kemampuan mereka juga sangat rendah. Selain itu dalam urusan modal usaha, disabilitas dinilai sangat susah untuk mendapatkan akses pinjamnan di bank.

“Ini menjadi pekerjaan rumah  bagi kita semua agar dibuka seluas-luasnya akses untuk penyandang disabilitas,” katanya.

Akibat susahnya akses yanhg dialami oleh penyandang disabiltas tersebut, membuat mereka banyak yang menjadi pengemis di jalanan dan sebagian digunkan oleh orang lain dijadikan alat untuk meminta-minta. Sementara dalam undang-undang sudah ditegaskan bahwa para penyandang disabiltas ini merupakan tanggungjawab pemerintah dan pemerintah wajib untuk memberdayakan mereka.

“Mereka yang tidak sekolah harus bisa ditarik untuk ke sekolah, dan bagaimana supaya mereka sekolah bisa menerima mereka dengan menyedikan fasilitas ramah disabilitas,” katanya.

Selain itu, katanya, mestinya yang penyandang disabiltas yang meminta-minta di jalan harus dicegah karena itu pekerjaan tidak bermartabat.

“Tapi itu mereka lakukan karena terpaksa. Kita pengen mereka itu dikasih keterampilan, misalnya bikin kue, kemudian  bagaimana memasarkannya. Maka salah satunya adalah bagaiamana kita memotivasi mereka para penyandang disabilitas,” katanya. []