Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
 
Nama, Kelahiran, dan Nashabnya
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah salah seorang “Syaikhul Islam” yang ilmu dan dakwahnya menyebar ke seluruh penjuru dunia. beliau merupakan pengajar terkemuka di Masjidil haram yang kala itu menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Murid-muridnya datang dari berbagai belahan dunia. Sayyid Ahmad Zaini Adalah keturunan ” Quthb Rabbany” Syaikh Abdul Qadir al Jailani.

Dikalangan dunia penuntut ilmu dipondok-pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan masyhur dikalangan mereka karena sebagian besar daripada sanad keilmuan para ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia dan Fathoni ) bersambung kepada ulama besar ini. Beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menentang faham Wahabi, sehingga Ulama besar ini sangat dibenci dan amat dimusuhi oleh golongan Wahabi. Maka banyak fitnah yang ditaburkan terhadap beliau. Tujuannya tidak lain agar umat Islam yang tidak tahu yang sebenarnya menjauhinya.
Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Kholilurrohman al-Kironawi al-Hindi al-Utsmani ( lahir 1226H /1811M, riwayat lain lahir Jumadil Awwal 1233H /9 Maret 1818M, wafat malam Jum`at, 22 Ramadan 1308H /2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan beliau memperkenalkannya kepada pemerintah Makkah. Sehingga Syeikh Rahmatullah mendapat izin untuk membuka Madrasah Shoulatiyah.
 
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang Syeikhul Islam, Mufti Haromain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari keturunan yang mulia, ahlul bait Rosulullah Saw. Silsilah beliau bersambung kepada Sayyiduna Hasan, cucu kesayangan Rasulullah Saw. Berdasarkan kitab Taajul-A`raas, juz 2, halaman 702 karya al-Imam al-A`llaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib A`li bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja`far al-A`ththoos. Nasabnya adalah seperti berikut:
Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi S.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad
bin Zaini Dahlan
bin Ahmad Dahlan
bin ‘Utsman Dahlan
bin Ni’matUllah
bin ‘Abdur Rahman
bin Muhammad
bin ‘Abdullah
bin ‘Utsman
bin ‘Athoya
bin Faaris
bin Musthofa
bin Muhammad
bin Ahmad
bin Zaini
bin Qaadir
bin ‘Abdul Wahhaab
bin Muhammad
bin ‘Abdur Razzaaq
bin ‘Ali
bin Ahmad
bin Ahmad (Mutsanna)
bin Muhammad
bin Zakariyya
bin Yahya
bin Muhammad
bin Abi ‘Abdillah
bin al-Hasan
Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya
bin Abi Sholeh
Musa
bin Janki Dausat Haq
bin Yahya az-Zaahid
bin Muhammad
bin Daud
bin Muusa al-Juun
bin ‘Abdullah al-Mahd
bin al-Hasan al-Mutsanna
bin al-Hasan as-Sibth
bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul rodliyallahu ‘anhuma wa `anhum ajma`in. binti
Khatam an Nabiyyin Habib Rabbi al’ alamin Sayyid Wa Maulana Muhammad bin Abdillah Nurin min nurillah, Allahumma Shalli wa salim wa Barik ‘ alaihi.  
 
 
Pendidikannya
salah Satu murid terkemuka Sayyid Ahmad, sayyid Bakrie bin Muhammad Satho Al Makkyi, penulis Hasyiyah "I'anatut Thalibin" mencatat dalam kitabnya " Nafkhah Ar Rahman " bahwa Sayyid Ahmad dilahirkan di kota Makkah pada Tahun 1232 Hijriyah. Ia mendapatkan pendidikan dasar dari ayahandanya sendiri sampai berhasil menghafalkan Al Qur'an dan beberapa kitab matan Alfiyah, Zubad dan lain-lain. Kemudian ia menuntut ilmu di Masjidil Haram kepada beberapa Syaikh. Al Allamah Syaikh Utsman bin Hasan Ad Dimyathi al Azhari merupakan "Syaikh Fath" yang banyak memepengaruhi dirinya.
 
Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, beliau kemudian dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi‘i, merangkap Syeikh al- Haram yaitu “pangkat” ulama tertinggi yang mengajar di Masjid al-Haram yang diangkat oleh Syeikh al-Islam yang berkedudukan di Istanbul, Turki. Beliau sangat terkenal, dan berawal dari itulah maka beliau diberi berbagai gelar dan julukan antaranya al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syeikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syeikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi – Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam – wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik).
 
Sayyid Ahmad pernah mendapatkan ijazah dan ilbas dari Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi, mufti Makkah. Ia juga mendapatkan sanad dari Habib Umar bin Abdullah al Jufri dan Habib Abdur Rahman bin Ali Assegaf. Sebagai ilmuwan sejati ia mendalami fiqh Mazhab Imam Hanafi kepada Al Allamah Sayyid Muhammad Al Katbi. Tetapi tidak hanya fiqh Mazhab Hanafi. Pada Akhirnya ia mampu menguasai empat mazhab dengan sempurna. Setiap kali ada pertanyaan ditujukan kepadanya, ia senantiasa menjawab dengan dasar empat mazhab tersebut
 
Alhasil, jika ada permasalahan sulit dan para ulama tak mendapatkan jalan keluar, sering kali Sayyid Ahmad menjadi pemecah kebuntuan. Karena ketinggian ilmunya. Sayyid Ahmad mendapatkan kepercayaan sebagai pengajar tertinggi di Masjidil Haram. Padahal, kala itu untuk menjadi pengajar seseorang harus lulus uji kemampuan kurang lebih 15 macam disiplin ilmu oleh para ulama besar di bidangnya masing-masing.
 
Status mulia Sayyid ahmad, tidaklah membuat Sosok beliau besar kepala. Ia tetap mengedepankan musyawarah dan diskusi bersama ulama lain dalam menyikapi permasalahan umat.
 
Murid beliau Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rahman” antara lain menulis : “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (7 qiraah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiraah 7. Kerana cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qari untuk mengajar ilmu ini, beliau khawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajar terus.”
 
 
ISYARAT ILAHI
"Suatu hari ketika aku sedang berziarah ke makam Sayyidina Husein di Mesir, antara tidur dan terjaga, aku merasakan diriku berada di Makkah. Kemudian aku memasuki Masjidil Haram dan menanam pohon. Ajaibnya pohon itu tumbuh dengan cepat dan cabang-cabangnya memenuhi Masjidil Haram dan berbuah banyak." Begitulah cerita Syaikh Utsman bin Hasan, guru Sayyid Ahmad.
 
Kala itu bermimpi, dia adalah ulama terkemuka di Mesir. Setelah bermimpi demikian, tanpa ragu lagi ia segera berpindah ke Makkah dan membuka Majlis ta'lim di Masjidil Haram yang langsung diikuti banyak orang termasuk Sayyid Ahmad. Selang beberapa lama setelah melihat potensi besar dan kepatuhan Sayyid Ahmad kepadanya, Syaikh Utsman mulai mengeti ta'bir (Tafsir) mimpinya."Insya Allah kamulah Sayyid Ahmad, pohon yang aku lihat dalam mimpi. dan darimulah akan menyebar ilmu Syariat hingga akhir Zaman," ujar Syaikh Utsman kepada Syaikh Ahmad. Tiga tahun sebelum Meninggal dunia, Syaikh Utsman menyerahkan urusan pengajaran dan majelis-majelisnya di Masjidil Haram kepada Sayyid Ahmad.
 
Sayyid Ahmad mempunyai metode pengajaran yang sangat efektif. Satu metode yang belum pernah dipraktekan para ulama sebelumnya ialah, ia senantiasa mengajarkan ilmu-ilmu dasar terlebih dahulu sebelum mengajarkan kitab-kitab besar. Ia mengajarkan hukum-hukum yang bersifat detil (furu') terlebih dahulu sebelum memberikan dasar hukum yang merupakan teori umum (ushul). Metode pendidikan akhlaknya adalah dengan memberikan teladan dalam ucapan ddan tingkah laku.
 
Dengan semangat tinggi ia selalu memperhatikan keadaan murid-muridnya.Ia membersihkan mereka dari sifat jelek dengan Riyadhah yang sesuai kondisi tiap individu, lalu menghiasi mereka dengan akhlak-akhlak yang mulia. Jika ia melihat salah seorang muridnya mempunyai suatu kelebihan dalam satu bidang tertentu, ia menyuruhnya mengajar murid di bawahnya. Berkat metode inilah, dengan singkat, Masjidil Haram dipenuhi para penuntut ilmu dari penjuru dunia, dan lahirlah ulama-ulama besar yang menyebarkan ilmunya ke seluruh pelosok dunia.
 
Selain itu, ia juga mempunyai perhatian terhadap nasib orang-orang yang berada di daerah pelosok. Khususnya mereka yang kurang peduli terhadap urusan pendidikan. Di sela-sela kesibukannya mengajar di Masjidil Haram, ia acapkali pergi ke pelosok-pelosok pegunungan sekitar Makkah untuk mengajarkan ilmu Al Qur'an dan ilmu-ilmu dasar yang wajib.
 
Sewaktu merasa tak mampu lagi bepergian jauh, ia menugaskan beberapa murid untuk mengantikannya. Ia pun menulis Syarah "Al Ajrumiyah" dengan cara yang dirasa akan memudahkan orang-orang awam dalam memahami gramatika bahasa arab. Ia membegikan buah penanya itu secara cuma-cuma. Berkat perjuangannya tersebut, ilmu syariat tersebar merata sampai ke pelosok-pelosok Jazirah Arab. Di bawah asuhannya, tercatat sekitar 800 anak penduduk pelosok Arab yang berhasil menghafalkan Al Qur'an, dan sebagian lainnya memfokuskan diri mempelajari ilmu fiqh, ada pula yang menekuni ilmu lughah (sastra arab).
 
 
KARYA-KARYANYA
Di sela-sela kesibukannya mengajar dan berdakwah, Sayyid Ahmad juga produktif menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Di antara kitab-kitab karyanya adalah : Bidang Tassawuf, Taysirul Ushul wa Tashilil Wushul, ringakasan Risalah Qusairiyah. Juga syarah Syaikhul Islam, ringkasan Minhajul Abidin karya Al Ghazali, Al Lujainul Masbuk yang merupakan ringkasan bab syukur dalam kitab Ihya Ulummudin' KArya Al Ghazali. dalam bidang tarikh atau sejarah karya-karyanya adalah : As Siratun Nabawiyah, Al Futuhatul Islamiyah, Al Fathul Mubin fi siratil Khulafir Rasyidin, ringkasan masrau'Rawi tentang manaqib Bani Alawi. Juga Ad-Durruts Tsamin yang berisikan biografi para pemimpin kekhalifahan Islam, Bahaul'ain fi Binail Ka'bah wa Maatsaril Haramain, Irsyadul 'Ibad fi Fadhailil Jihad, Ad-Duras Saniyah Fir radd' Alal Wahabiyah yang berisikan argumen dan dalil-dalil yang menetang aliran Wahabi, dan Asnal Mathalib yang bersikan dalil selamatnya paman Nabi s.a.w., Abu Thalib.
 
Dalam bidang tauhid ia menulis Fathul Jawwad, Syarah kitab Faidhhur Rahman, dan sebuah risalah yang membahas perbedaan mendasar antara pahamm Ahlus Sunnah dengan selainnya. dalam bidang Nahwu : Syarah Al-Ajrumiyah, Syarah Alfiyah, dan sebuah risalah yang membahas bacaan "Basmala". Dalam bidang ma'ani dan bayan, telah ditulisnya sebuah kitab As-Samarqandyi dan Hasyiyah kitab Zubad karya Ibnu Ruslan, Hasyiyah kitab Mukhtashar Iydhah karya Syaikh Abdur Rauf dan kumpulan fatwa yang merupakan jawaban atas kumpulan syair. Itu semua menunjukkan kedalaman ilmu pengetahuannya dalam segala bidang.
 
Beliau  mempunyai risalah khusus yang berisi shighat shalawat
 
Murid-Muridnya
Diantara murid-murid beliau yang terkenal ialah Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi rhm. Pengarang “I’anathuth-Tholibin Syarh Fath al-Mu’in karya al-Malibary” yang masyhur, Sayyidil Quthub al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas rhm, Sayyid Abdullah az-Zawawi Mufti Syafi`iyyah, Mekah. Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi telah mengarang kitab bernama “Nafahatur Rohman” yang merupakan manaqib atau biografi kebesaran gurunya Sayyid Ahmad rhm.
 
Adapun ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah:
  1. Syeikh Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani (Jawa Barat)
  2. Syeikh Abdul Hamid Kudus (Jawa Timur) 
  3. Syeikh Muhammad Khalil al-Maduri (Jawa Timur)
  4. Syeikh Muhammad Saleh bin Umar, Darat (Semarang)
  5. Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi (Sumatra Barat)
  6. Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang (Jawa Timur)
  7. Sayyid Utsman bin ‘aqil bin Yahya Betawi (DKI Jakarta)
  8. Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani (Jawa Barat)
  9. Tuan guru Kisa-i Minankabawi [atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Yang seorang ialah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi ialah cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
  10. Syeikh Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi
  11. Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni
  12. Tuan Hussin Kedah (Malaysia)
  13. Syeikh Ahmad Yunus Lingga,
  14. Datuk Hj Ahmad (Ulama Brunei Dar as-Salam)
  15. Tok Wan Din, nama lengkapnya Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,
  16. Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni (Tok Bendang Daya II),
  17. Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,
  18. Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh `Abdul Qadir bin `Abdur Rahman bin `Utsman al-Fathoni
  19. Sayyid `Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh)
  20. Syeikh `Utsman Sarawak
  21. Syeikh Abdul Wahab Rokan
  22. Dan lain-lain.

Inilah orang yang difitnah dan dituduh oleh gembong-gombong Wahabi sebagai tukang fitnah yang memburuk-burukkan Ibnu Abdul Wahhab an-Najdi dan Wahhabi. Ketahuilah bahwa diantara yang pertama kali memfitnah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan -rahimahullah- adalah Rasyid Ridha murid Syekh Muhammad Abduh pengarang "Tafsir al-Manar" yang menjadi rujukan kaum Wahhabi. Tujuan mereka memfitnah Sayyid Ahmad adalah untuk memusnahkan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya, agar kebatilan mereka diterima. Sesungguhnya Sayyid Ahmad bersih dari tuduhan musuh-musuhnya tersebut, beliau adalah ulama yang tsiqah (yang bisa dipercaya ).

 
Mudah-mudahan Allah SWT merahmati dan meridhoi Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan murid-muridnya Amin.
 
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany kembali ke rahmatullah pada tahun 1304 H /1886 M setelah menghabiskan usianya di jalan Allah berkhidmat untuk agamaNya. Beliau di maqamkan di Madinah al-Munawwarah. Sesungguhnya amat besar jasa ulama ini dalam mempertahankan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
 
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang u`lama yang produktif Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan karangan yang sangat banyak diantaranya adalah:
 
1. Al-Futuhatul Islamiyyah;
2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;
3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;
4. Al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;
5. Ad-Durarus Saniyyah fi raddi 'alal Wahhabiyyah;
6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;
7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul 'Abidin;
8. Hasyiah Matan Samarqandi;
9. Risalah al-Isti`araat;
10. Risalah I'raab Ja-a Zaidun;
11. Risalah al-Bayyinaat;
12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;
13. Shirathun Nabawiyyah;
14. Syarah Ajrumiyyah;
15. Fathul Jawad al-Mannan;
16. Al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;
17. Manhalul 'Athsyaan; dll.

Akhir Hayatnya
Menjelang akhir hayatnya, tepatnya pada akhir bulan Dzulhijah tahun 1303, ia memilih pergi ke kota Madinah. Maksudnya hendak bermukim beberapa lama sambil mengajar di sana. Namun di Madinah ia lebih memfokuskan diri beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tiap pagi dan sore ia secara rutin menziarahi makam datuknya, Rasulullah s.a.w., sampai ia meninggal dunia, tepatnya pada malam ahad 4 Safar 1304 Hijriyah /1886 M. Jasad yang mulia itu dimakamkan di pekuburan Baqi', di antara kubah para keluarga dan putri Nabi s.a.w.
 
Perihal wafat dan tempat wafat Sayyid Ahmad telah didisyaratkan oleh Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihab melalui 9 bait-bait syair yang ia berikan kepada Sayyid ahmad sendiri, setahun sebelum ia meninggal.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page