INFAK / SEDEKAH/ DONASI/ SUMBANGAN untuk LADUNI.ID
Seluruh dana yang terkumpul untuk operasional, pemeliharaan, dan pengembangan portal dakwah Islam ini
Pada hakikatnya, ibadah puasa itu juga menyiratkan makna mendidik jiwa dan mengendalikan hawa nafsu. Dengan berpuasa, seorang hamba menahan diri dari syahwat dan keinginan duniawi, yang semua itu dilakukan karena Allah SWT.
Umat Nabi Muhammad SAW, meskipun hanya diwajibkan shalat lima waktu, tetap banyak yang bersemangat dalam beribadah, bahkan ada yang melebihi jumlah 50 kali dalam sehari. Bahkan Gus Baha menyebutkan bahwa orang Muslim biasa pun juga banyak yang bisa melaksanakan shalat sebanyak itu.
Dalam menjalankan ibadah puasa, selain memperhatikan keabsahannya dari segi fiqih, kita juga harus menjaga kualitasnya dengan menghindari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa.
Karena Ramadhan itu dipenuhi keberkahan dan rahmat, maka sangat dianjurkan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai ibadah, khususnya dengan melaksanakan shalat Tarawih dan Witir.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan bagi setiap orang itu adalah bagian dari apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)
"Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Nabi SAW bersabda: 'Kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung satu bulan itu seperti ini.' Maksudnya, satu saat terkadang berjumlah 29 hari dan pada waktu lain 30 hari." (HR. Bukhari)
Pernyataan Gus Baha membuka perspektif baru tentang bagaimana memahami komunikasi dalam Islam. Dalam kondisi tertentu, ketegasan dalam menyampaikan kebenaran bisa saja menggunakan bahasa yang keras, selama tujuannya benar dan tidak keluar dari koridor akhlak Islam.
Para kyai pesantren juga sering mengingatkan betapa istimewanya kedudukan ilmu. KH. Maimoen Zubair pernah dawuh, "Ora ono kemanfaatan zaman saiki kejobo wong iku iso ngaji." (Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat di zaman ini kecuali jika ia bisa mengaji (paham ilmu agama).
Sanad adalah fondasi yang tak tergantikan dalam memahami dan menyebarkan ilmu agama. Sanad menjadi benteng untuk menjaga otentisitas ajaran Islam, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama berdasarkan pesan-pesan yang tersirat dalam Al-Qur’an.