Penjelasan Hukum tentang Anggota DPR/DPDRD dari Seorang Perempuan

 
Penjelasan Hukum tentang Anggota DPR/DPDRD dari Seorang Perempuan

Wanita Menjadi Anggota DPR/DPRD

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya wanita menjadi anggota DPR/DPRD? Apakah yang demikian itu tidak termasuk di dalam hadits yang artinya: “Tidak berbahagialah suatu golongan yang menyerahkan urusannya kepada orang perempuan.” Karena anggota hanya berhak memberi pertimbangan kepada ketua sidang, yang selanjutnya buah pertimbangan itu bisa dijadikan bahan/dasar oleh ketua untuk memutuskan sesuatu persoalan?.

Jawab :

DPR/DPRD adalah badan permusyawaratan untuk menentukan hukum (tsubutu amrin li amrin), bukan untuk menentukan qadha (lizamil hukmi). Oleh sebab itu wanita menjadi anggota DPR/DPRD menurut hukum Islam diperbolehkan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Afifah.
  2. Ahli dalam hal-hal tersebut di atas.
  3. Menutupi auratnya.
  4. Mendapat izin dari yang berhak memberi izin.
  5. Aman dari fitnah.
  6. Tidak menjadikan sebab timbulnya mungkar menurut syara’.

Apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, maka haram. Dan syuriah dengan kebijaksanaan serta persetujuan PB Syuriah NU berhak menariknya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Mughni al-Muhtaj [1]

(وَيُنْدَبُ) عِنْدَ اخْتِلاَفِ وُجُوْهِ النَّظَرِ وَتَعَارُضِ اْلأَدِلَّةِ فِيْ الحُكْمِ (أَنْ يُشَاوِرَ الْفُقَهَاءَ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN