Hikmah di Balik Tradisi “Mudik” Lebaran

 
Hikmah di Balik Tradisi “Mudik” Lebaran
Sumber Gambar: Pinterest, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Setiap menjelang Idul Fitri, ada satu peristiwa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam di Indonesia, yaitu “mudik”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik dimaknai sebagai kegiatan pulang ke kampung halaman, di mana orang-orang yang bekerja atau tinggal di luar kampung halaman (merantau) kembali ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya atau liburan besar bersama keluarga dan kerabat. 

Jika dikulik asal katanya, maka pada dasarnya istilah ini merupakan akronim dalam bahasa Jawa, yakni dari kata “mulih dhisik” yang berarti “pulang duluan” atau “pulang ke kampung halaman”. Lalu, istilah ini belakangan menjadi kosakata baru dalam lema Bahasa Indonesia, seperti halnya istilah “bukber” dan “ngabuburit”. Tapi yang menarik, ternyata semua itu, tidak sekadar menjadi istilah baru, melainkan juga menjadi tradisi yang unik dan menarik untuk dikulik.

Setiap momen mudik, jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota-kota besar dan kembali ke kampung halaman mereka. Jalanan penuh sesak, terminal ramai, stasiun dan bandara dipenuhi lautan manusia dengan koper dan barang bawaan. Jika diamati lebih mendalam, semua ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga sebuah perjalanan batin yang sarat makna.

Mudik bukan hanya soal pulang ke rumah, tetapi juga tentang menyambung silaturrahim, mengenang akar, dan merajut kembali hubungan yang mungkin renggang oleh jarak dan waktu. Diakuti atau tidak, di tengah hiruk-pikuk dunia modern saat ini yang sering kali membuat manusia terasing dari keluarganya sendiri, momen mudik menjadi semacam ritual penyatuan kembali. Setidaknya tidak lupa jalan pulang untuk melepas kerinduan.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN