Teori "Biasanya" dalam Komunikasi Sehari-hari
LADUNI.ID - Ucapan, tulisan atau komentar yang berulang-ulang termasuk di media sosial membentuk pola tertentu, biasanya menunjukkan kondisi pengucapnya. Begini misalnya:
1. Orang yang sering berbicara mengenai mahalnya harga-harga atau membengkaknya kebutuhan sehari-hari menunjukkan bahwa ekonominya belum stabil. Orang yang ekonominya sudah stabil tak sering membicarakan ini di obrolannya, tapi berbicara soal kualitas, kenyamanan atau fasilitas tanpa membicarakan harganya. (Wartawan dan pembawa berita ekonomi dikecualikan sebab memang tugasnya berbicara soal ini)
2. Orang yang sering berbicara tentang pentingnya kesabaran, buruknya kedzaliman orang lain, bahaya sifat hasud, iri dengki dan semacamnya biasanya menunjukkan dia sedang bermasalah dengan orang lain dan dia dalam posisi lemah tertindas. Bila mental seseorang kuat dan tegar, biasanya hal semacam ini tak menjadi bahasannya dalam keseharian, tak peduli ada orang yang mengusiknya atau tidak. (Pengajar ilmu tasawuf bisa dikecualikan sebab memang tugasnya menerangkan ini)
3. Orang yang sering bicara tentang nikmatnya hidup sederhana dan mencela kemewahan biasanya menunjukkan dia sendiri dari golongan ekonomi bawah yang harus berpuas diri dengan kondisinya. (Lagi-lagi pengajar tasawuf harus dikecualikan). Perlu dicatat, yang begini biasanya bukan orang zuhud sebab orang zuhud yang asli tak suka bercerita tentang kezuhudan.
4. Demikian juga orang yang sering berbicara tentang senangnya dia punya barang mahal atau makan makanan mahal lalu dipamerkan, biasanya dia belum tergolong kaya atau baru kaya. Yang betul-betul kaya atau sudah lama kaya tak tertarik membicarakan atau memamerkan hal semacam ini di kesehariannya sebab sudah biasa baginya. (Oya, kata pamer itu sendiri tak jelas batasannya; orang kaya dari fotonya saja bisa terlihat kaya, baik dia berniat pamer atau tidak. Jadi kata "pamer" ini tak bisa dibuat patokan penilaian objektif)
Memuat Komentar ...