Gus Muwafiq: Islam Tidak Pernah Berikan “Privilege” untuk Etnis dan Klan Tertentu

 
Gus Muwafiq: Islam Tidak Pernah Berikan “Privilege” untuk Etnis dan Klan Tertentu

LADUNI.ID, Jakarta - Setahun sebelum wafat, di bukit Arafah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan sebuah pidato pamungkas dengan penegasan bahwa Islam adalah Agama Equality (persamaan, al-musawat).

Tidak boleh ada seseorang atau komunitas manapun yang berhak mengklaim sebagai makhluk terhebat di muka bumi ini atas nama apapun baik etnis atau klan apapun.

Kanjeng Nabi berpesan bahwa makhluk terhebat adalah mereka yang paling komitmen (takwa) kepada Allah SWT dari bangsa dan etnis apapun mereka berasal.

Tausiyah terakhir Kanjeng Nabi ini “mendestroy” dan merontokkan hegemoni etnisitas (kesukuan, kabilah, kebangsaan), hegemoni klan (nasab, keturunan) dan hegemoni atas nama apapun yang sebelumnya diagung-agungkan.

Jika kita memakai pendekatan ilmu “tawarikhul mutun” (historitas konten hadis), maka dipastikan hadis atau pesan pamungkas Kanjeng Nabi ini tidak mungkin ada yang “menasakh” atau membatalkannya.

Di samping pesan di atas, Muadz bin Jabal, seorang “Duta Besar”nya Kanjeng Nabi yang pernah bertugas di Yaman ketika itu, memaparkan juga bahwa pesan terakhir Rasulullah yang diterima Muadz adalah soal moralitas. Informasi ini bisa dibaca di karya Imam Malik yaitu Al-Muwatta’ yang di-

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN