Laporan Lengkap Konferwil PWNU Jawa Tengah

Laporan Lengkap Konferwil PWNU Jawa Tengah

 

Pengurus wilayah Nahdlatul Nahdlatul Ulama (PWNU) mengadakan Konferensi Wilayah Jawa Tengah yang dimulai pada Sabtu (07/07/2018) yang merupakan agenda organisasi lima tahunan. Event yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Grobogan yang diasuh oleh ulama kharismatik pemimpin jamaah Al-Khidmah KH Munir Abdullah ini, akan menetapkan hasil sidang pleno dan memilih pengurus baru PWNU periode yang akan datang, 2018-2023.  

Konferwil PWNU Jawa Tengah ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj yang dilanjutkan dengan proses penabuhan bedug di Mushola pondok pesantren yang didampingi oleh Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh dan Ketua PWNU Jateng Abu Hapsin.

Dalam pembukaan Konferwil PWNU XV tersebut nampak hadir Kapolda Jateng, Bupati Grobogan, Kapolres Grobogan, Danramil Grobogan dan pengurus PCNU se-Jateng, dan kiai serta pengasuh pondok pesantren di Jawa Tengah serta para peserta Konfirwil yang sudah sejak sehari sebelumnya meramaikan acara.

 

Sambutan

Agenda Muskerwil PWNU Jateng ini menurut ketua panitia, kyai Najahan, sudah diselenggarakan di Purbalingga pada Jumat-Ahad (20-22) April 2018. "Pada Konferwil kali ini, selain mengesahkan dan menetapkan hasil-hasil sidang komisi Muskerwil pada bulan April lalu, juga akan memilih ketua PWNU Jateng periode yang akan datang," jelas ketua panitia.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abu Hapsin, dalam sambutannya menyampaikan beberapa hasil kerja selama periode kepemimpinannya dan menyampikan introspeksi yang harus dilakukan oleh pengurus berikutnya.

“Kami berharap forum Konferwil bisa mengasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi bangsa, khususnya daerah Jawa Tengah dan menghasilkan kepengurusan yang bersatu padu bersama bergerak demi NU. Kepemimpinan yang baik adalah mampu mengantarkan kepemimpinan selanjutnya,” lanjutnya.

Di hadapan ratusan peserta dan kyai, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil menegaskan, “bangsa yang besar sangat membutuhkan kekuatan civil society (masyarakat sipil). Salah satu yang bisa mewakili civil society di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. NU memiliki 91 juta lebih anggota sangat ditunggu masyarakat indonesia dan internasional.”

Kyai Said juga menegaskan NU dalam membangun bangsa sudah mantap memegang prinsip yang tidak bisa digeser, yakni religius nasionalis sesuai petunjuk pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang telah mampu mengharmonisasikan agama dan nasionalisme.

Kyai Said yang lebih banyak mengurai sejarah perkembangan dunia islam ini mengutarakan gejolak perpecahan bangsa dunia akibat belum menyatu antara nasionalisme dan agama. “Mbah Hasyim sudah mengantisipasi jangan sampai Indonesia menjadi negara nasional sekuler. Karenanya, Hubbul wathan minal Iman,”tandas Kiai Said.

 “Sebagaimana keputusan hasil Muktamar NU di Situbondo negara RI sudah final. Artinya, pintu gerbang negara Islam sudah tertutup. NU sampai hari ini menjadi mitra pemerintah sebagai pilar negara, bentengnya konstitusi. Mari kita berlomba-lomba mengisi negara dengan nilai-nilai Islam,” tegas kyai yang berturut-turut menjadi salah satu dari 20 Tokoh Islam Berpengaruh di Dunia.

 

Pemilihan Ahwa

Sebagaimana diatur dalam AD/ART Nahdlatul Ulama bahwa pemilihan Rais Syuriyah PWNU harus melalui metode Ahlul Halli wal Ahdi (AHWA). Adapun anggota AHWA kali ini antara lain KH Wahib Mahfud, KH Aminuddin Masyhudi, KH Ubaidullah Shodaqoh, KH Syuada Adzkiya, KH Mukhlis, KH Hambali, dan KH Ma'shum Fathoni.

Selanjutnya setelah mengadakan musyawarah selama 15 menit, Tim AHWA melalui KH Ahmad Hambali menyampaikan hasil musyarawah yang telah memilih KH. Ubaidillah Shodaqoh menjadi Rois Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Periode 2018-2023. Ini adalah jabatan yang kedua kali bagi KH. Ubaidillah Shodaqoh sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah.

Pimpinan Sidang KH. Marsudi Syuhud yang merupakan salah satu Ketua PBNU menetapkan KH Ubadillah Shodaqoh menjadi Rois PWNU Jateng. “Kami  tetapkan menjadi Rois Syuriyah PWNU Jateng,” tandasnya yang diikuti peserta membaca alfatihah.

 

Pemilihan Tanfidz

Berikutnya dalam sidang pemilihan Ketua Tanfdziyah PWNU Jawa Tengah menampilkan calon yang akan dipilih antara lain Dr. H. Mohamad Arja Imroni M.Ag., KH Hayatun Abdullah Hadziq (Gus Hayatun), dan kyai Muzzammil.

Setelah dilakukan pemilihan pertama diperoleh hasil H Arja’ Imroni didukung 16 suara, HM Muzammil dengan 12 suara, dan Gus Hayatun memperoleh 9 suara.  Namun pada saat pemilihan tahap kedua, H Arja' Imroni yang selama ini menjabat sekretaris PWNU Jateng, menyatakan mengundurkan diri terkait persyaratan dalam keikutsertaan pengkaderan sebagai diatur dalam tata tertib, sehingga calon ketua tinggal dua orang.

Begitu juga, Gus Hayatun tidak bisa melaju pada putaran pemilihan berikutnya dikarenakan persyaratan perolehan suara minimal untuk pemilihan kembali, sehingga peserta hanya tinggal satu orang yaitu HM Muzammil.

Pimpinan sidang dari PBNU menawarkan kepada peserta untuk melakukan pemilihan ulang atau memilih HM Muzammil sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng secara aklamasi, dan peserta secara serempak menjawab agar HM Muzammil ditetapkan sebagai ketua secara aklamasi atau tidak ada pemilihan ulang.

Pada akhirnya HM Muzammil ditetapkan sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng oleh pimpinan sidang secara aklamasi, sebagaimana tertulis dalam AD/ART NU, yang menyebutkan, “apabila calon yang memenuhi syarat hanya satu orang saja, maka bisa ditetapkan secara aklamasi.”

Maka, Konferwil PWNU Jawa Tengah menghasilkan keputusan penting dalam menetapkan KH Ubaidillah Shodaqoh sebagai Rais Syuriah dan HM Muzammil sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah untuk periode kepengurusan 2018 – 2023.

 

Serba-serbi

Dalam Konferwil PWNU Jateng ini terdapat hal penting yang disampaikan dalam pembukaan acara oleh KH Munif Zuhri, atau biasa disapa dengan Mbah Munif yang menyatakan pada malam Jumat sebelum acara Konferwil, beliau bertemu dengan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari yang memberikan beberapa pesan penting.

“Malam Jumat kemarin, saya bertemu Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau berpesan agar kita semua menjaga NU. Karena NU inilah tiang agama  yang menjaga negara,” lanjut Mbah Munif sambil meneteskan air mata

“NU ini organisasi yang diridhoi Allah. Sebelum berdiri, Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari bertemu Rasulullah Muhammad SAW sampai 6 kali. Bukan hanya sekali. Ini benar-benar terjadi dan itu artinya Kanjeng Nabi meridhoi lahirnya NU,” tegas Mbah Munir sebelum memimpin doa.

Sejak awal berdiri, NU memang lahir untuk menjaga agama, bangsa dan negara. Ini benar-benar organisasi yang diridhoi Allah, karena para kiai mendirikan NU juga atas restu Rasulullah SAW. Pada kesempatan tersebut, Kiai Munif juga menyampaikan bahwa beliau beruntung sekali menjadi orang NU

“Saya tidak perlu jadi siapa-siapa. Tidak usah jadi siapa-siapa. Tidak usah jadi apa-apa. Saya cukup seneng. Saya cukup lega. Bangga. Meskipun saya hanya jadi butir debu yang menempel di tiang bendera NU yang tidak sempat terusap sampai kiamat. Sisa umur saya tidak banyak, akan saya habiskan untuk NU. Meski saya diam di rumah, saya mendoakan NU. NU darah saya. Semoga ini bisa mendasari warga NU di pelosok negeri ini,” ungkap Mbah Munif.

Pernyataan mbah Munif ini sontak mengundang tetesan air mata haru para peserta Konferwil yang menyimak pidato beliau. Semoga pidato mbah Munif menjadi acuan dan landasan bagi para warga NU di seluruh dunia untuk turut bergerak membantu dakwah NU, sebuah organisasi yang direstui oleh nabi Muhammad Rasulullah.

Disadur dari reportase NU Online, Duta Islam, dan Suara Nahdliyin.