Belajar Keberagamaan Dari Lionel Messi

Belajar Keberagamaan Dari Lionel Messi

OlehL Muhammad Holil

Pengajar Ma'had Aly Situbondo

Beberapa hari yang lalu saya mendengar petani yang bertamu ke rumah mengungkapkan kekecewaannya menanggapi salah satu sesi pertandingan sepak bola di Piala Dunia 2018, "Adduh Mak Keh, Messi jagoanna kaule kala" (Aduh Kyai, Mesai Jagoan saya kalah) ungkapnya. Saya yang tidak tahu menahu tentang sepak bolah akhirnya berselancar di Internet, ternyata Messi adalah salah satu pemain Argentina yang digandrungi oleh banyak Pecinta Bola di tanah Air.

Melihat sejenak wajah Messi saya berasumsi bahwa dia seorang Muslim yang taat. Apa alasannya?
Karena ada dua kriteria, pertama dia disukai oleh banyak "gibol" (gila bola) tanah air yang mayoritas Muslim, anggapan ini berangkat dari ramainya netizen di media sosial yang menggunakan logik pecinta sama dengan yang dicinta. Pendukung adalah sama dengan yang didukung. Kalau anda mendukung Jokowi maka disimpulkan anda pro penista Agama. Nah, karena penggemar Messi banyak yang Muslim maka saya beranggapan Messi adalah Muslim, atau sebaliknya, tentunya kalau menggunakan cara berfikir tadi.

Kedua, karena dia berjenggot. Ada sekelompok orang yang mengatakan kalau mau ikut Nabi Muhammad maka anda harus memelihara jenggot, inipun berakibat pada pemikiran kalau tidak berjenggot maka anda tidak mengikuti sunnah Nabi. Dengan logika ini, sayapun beranggapan siapapun yang berjenggot bisa dianggap pengikut Sunnah, terutama Messi.

Mungkin tidak semua sepakat dengan saya karena faktanya Messi tidak pernah menunjukkan KTPnya beragama Islam. Hanya saja, disadari atau tidak saya merasa ada pergeseran makna beragama beberapa tahun belakangan, mulai ada pergeseran parameter tentang keberislamannya seseorang, berislam jaman now lebih condong ke arah formalis dan kolektifis. Dua hal ini yang akan saya bahas secara singkat dalam tulisan ini.

a) Formalis, apa itu beragama secara Formalis? Beragama secara formalis adalah kecenderungan atau pengamalan dalam beragama yang lebih menonjolkan ritus-ritus lahiriah dalam beragama. Kaum formalis lebih menekankan ihwal yang berada pada permukaannya saja. Ada semacam tendensi untuk mengatakan bahwa anda dianggap seorang Muslim sejati kalau memiliki tanda hitam di dahi/jidat, anda dianggap muslim yang sholeh kalau anda berjenggot, anda dianggap muslim yang taat kalau anda berjubah. Tentu tidak ada masalah saat anda memiliki tanda hitam di jidat, memelihara jenggot dan memakai Jubah. Yang jadi masalah adalah ketika anda menjadikan ihwal lahiriyah tersebut sebagai identitas keberagamaan seseorang.

Kalau anda salah satunya maka anda bisa jadi beranggapan Messi sebagai Muslim. Padahal berjenggotnya Messi bukan tanda keberislamannya. Keberislaman substansinya adalah penghayatan individu bukan apa yang ditampakkannya. ini bersesuaian dengan kaidah Ushul Fiqh العبرة بالجوهر لا بالمظهر yang dianggap adalah substansinya bukan kenampakannya.

b) Kolektifis. apa itu beragama secara kolektifis? Beragama secara Kolektifis adalah kecenderungan untuk menjadikan kerumanan sebagai identitas beragama seseorang. Sudah ada kelompok-kelompok yang menganggap Identitas kolektif sebagai parameter keberagamaan. Kelompok ini meletakkan simbol kerumunan diatas penghayatan individu dalam beragama. Situasi ini seakan menjadi satu-satunya tanda keseriusan seseorang dalam beragama. Trend kerumunan akhirnya menghilangkan secara eksistensialis keberagamaan individu. 

Contoh, dalam kehidupan sehari-sehari santri pergi ke pusat perkotaan dianggap cupu, ndeso, tidak paham trend padahal kualitas pribadinya belum tentu yang bersarung lebih rendah. Padahal penyebab utamnya adalah karena tidak sama dengan kerumunan. Dalam kehidupan beragama, saya pernah menemukan semboyan berseliweran di media sosial "jangan ngaku-ngaku muslim, kalau subuhnya tidak Jamaah di masjid", semboyan ini mencurigai Muslim yang shalat subuhnya tidak di Masjid. Semboyan ini juga menuduh seorang Muslim yang shalat subuhnya di selain Masjid sebagai Muslim yang tidak Sholeh. 

Bisa jadi ada ulama yang intelektualitasnya di atas rata-rata tapi karena berjamaah di rumahnya lantas dibully rame-rame. Atau ada juga yang berhalangan ke Masjid karena safar, sakit, kecapean, merasa lebih khusyu' di rumahnya, was-was atau alasan lainnya kemudian dianggap bukan Muslim yang ta'at. Kenapa? karena tidak sama dengan kerumunan.
Apakah dengan demikian lebih baik tidak Jama'ah di Masjid? Jam'ah dimasjid adalah lebih baik tapi menganggap jama'ah di Masjid sebagai tanda keberagamaan adalah tidak tepat. Begitupun kalau berkumpul dengan orang-orang berjubah maka dia yang memakai sarung bisa dianggap berislam tidak secara Kaffah, padahal berjubah itu boleh tapi menganggap orang berjubah adalah bertakwa sedangkan si pemakai sarung dianggap lemah iman, maka itu tidak tepat.